Sabtu, 26 Februari 2011

uang BUKAN modal utama

Republika-online :
 
Apakah modal utama memulai usaha? Jika Anda menjawab uang, mungkin benar, tapi tidak dalam bisnis ala Rasulullah SAW.  "Yang menjadi number one capital dalam bisnis ala Rasulullah adalah kepercayaan (trust) dan kompetensi," kata pakar ekonomi syariah, Syafii Antonio.

Menurutnya, dalam trust itu ada integritas dan kemampuan melaksanakan usaha. "Beliau membangun usaha dari kecil, dari sekadar menjadi pekerja, kemudian dipercaya menjadi supervisor, manajer, dan kemudian menjadi investor," ujarnya.

Perjalanan dari kuadran ke kuadran itu, katanya, menunjukkan bahwa Rasulullah adalah seorang entrepreneur yang memiliki strategi dalam mengembangkan usahanya dan karakteristik untuk mencapai sukses.

Sebagai pengusaha dan pemimpin, Rasulullah mempunyai sumber income yang sangat banyak. Namun Rasul  sangat ringan tangan memberi bantuan. "Beliau sangat tidak sabar melihat ada umat yang menderita dan tidak ridha melihat kemiskinan di sekitarnya atau kelaparan di depan matanya," kata Syafii.

Itu sebabnya, kata Syafii, Rasulullah selalu berinfak dengan kecepatan yang luar biasa, yang digambarkan para sahabatnya sebagai "seperti hembusan angin". "Ia menyedekahkan begitu banyak hartanya dan mengambil sedikit saja untuk diri dan keluarganya," ujarnya.

Kepemimpinan dan manajemen ala Rasulullah ini akan dibedahnya dalam Eksiklopedia Leadership & Manajemen Muhammad SAW, The Super Leader Super Manager yang akan diluncurkan besok. Dalam buku itu, Syafii  merangkai dan menuangkan ketauladanan nabi Muhammad SAW dalam satu set ensiklopedia yang terdiri dari delapan buku.

Menurut Doktor Banking Micro Finance dari University of Melbourne itu, dalam diri Rasulullah banyak hikmah yang bisa dipetik mengangkut soal manajemen dan kepemimpinan. Sayangnya, sangat terbatas literatur yang menggali dimensi leadership dan manajemen dengan kaca mata analisa tematis dan modern. “Dalam arti dipandang dari sudut ilmu manajemen modern dan suasana modern,” kata pimpinan Tazkia Group itu.

mau jadi wirausaha? sekarang juga bisa !!


Banyak sekali jalan menjadi entrepreneur, bahkan ketika tak serupiah pun duit di kantong Anda. Bagaimana caranya? Peluang apa saja yang bisa segera ditubruk? Tak ada profesi yang sedemokratis profesi Entrepreneur (wirausaha/pengusaha). Siapa pun Anda, asalkan hari ini punya keberanian, hari ini juga Anda bisa langsung menjadi pengusaha — bahkan ketika tak serupiah pun duit di kantong Anda. Bandingkan, misalnya, untuk menjadi dokter, Anda mesti kuliah dulu bertahun-tahun di fakultas kedokteran. Demikian pula profesi lain seperti pengacara, arsitek, apoteker, psikolog, atau ahli konstruksi.
Memang, umumnya orang berpandangan, untuk menjadi wirausaha kita harus menyiapkan uang tunai lebih dulu sebagai modal. Itu sebabnya banyak orang sibuk berburu uang untuk menghimpun modal, biasanya dengan menjadi karyawan di perusahaan orang. Setelah dirasa cukup, barulah memutuskan membuka usaha sendiri. Namun ceritanya akan lain jika — dan ini yang sering terjadi — uang yang didapat ternyata dirasa hanya pas untuk hidup sehari-hari. Alhasil, cita-cita membuka usaha sendiri tinggallah cita-cita, karena usia keburu habis tersita untuk memikirkan kebutuhan rumah tangga sehari-hari.
Pandangan bahwa untuk memulai usaha harus tersedia uang tunai, tak sepenuhnya benar. Dan itu telah dibuktikan oleh para pengusaha sukses. Sebagian besar dari mereka mengawali usaha justru ketika mereka tidak punya apa-apa, terdesak, putus sekolah/kuliah lantaran tak ada biaya, atau bahkan karena merasa terhina. Dalam kondisi nothing to loose ini, keberanian dan kenekatan mereka muncul. Dalam kondisi bukan siapa-siapa, mereka dipaksa untuk membangun “mimpi” masa depan, tertantang untuk meraihnya, dan berusaha keras menyusun strategi untuk mencapainya. Keberanian dan motivasi yang menyala-nyala itu sekaligus menyingkirkan segala hal yang sebelumnya dianggap memalukan.
Misalnya, karena tak punya uang serupiah pun di kantong, mereka tak segan-segan mengawali usaha sebagai makelar rumah, mobil, barang elektronik, aneka bahan bangunan, bahan kebutuhan pokok, atau barang-barang lainnya. Dengan modal dengkul ini, mereka langsung memetik keuntungan dari komisi atau berdasarkan kesepakatan lain yang ditentukan bersama pemilik barang.
Cara lain, misalnya, menjual jasa dengan lebih dulu meminta uang muka. Ini bisa dilakukan di industri jasa pendidikan seperti bimbingan belajar, les bahasa Inggris, kursus musik (piano, gitar, biola, dan sebagainya). Atau, bisa juga konsumen memesan barang tertentu kepada kita, tetapi sebelum barang pesanan itu kita kerjakan, kita minta uang muka lebih dulu. Nah, uang muka dari para konsumen itulah yang kita jadikan modal untuk menggelindingkan bisnis. Gampang kan?
Masih ada lagi. Kalau Anda kebetulan punya keahlian khusus, memasak misalnya, Anda bisa mencari pemodal untuk membuka restoran dengan sistem bagi hasil. Banyak lulusan segar perguruan tinggi, baik dari dalam maupun luar negeri, tanpa ragu bertekad membangun bisnis sendiri. Demikian juga, tak sedikit profesional di perusahaan mapan tiba-tiba ganti haluan menjadi pengusaha.
Sungguh banyak jalan untuk menjadi wirausaha. Profesi seperti dokter, arsitek, desiner interior, pengacara, atau bahkan artis, sebetulnya tinggal selangkah lagi bisa menjadi pengusaha jika mereka mau. Dokter bisa bikin klinik atau bahkan rumah sakit sendiri. Pengacara dapat mendirikan kantor konsultan hukum. Desainer interior bisa bikin kantor konsultan desain dan interior. Artis, dengan pergaulannya yang luas, bisa segera mendirikan rumah produksi sendiri.
Kalau punya uang dan tak ingin terlalu repot, Anda bisa langsung menjadi pengusaha dengan membeli waralaba (franchise) produk/jasa terkenal yang sudah terbukti sukses. Dengan semakin derasnya arus barang (baik lokal maupun dari mancanegara), bisnis keagenan dan distribusi pun sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja. Dalam perjalanannya, seperti halnya dalam kehidupan yang lain, para wirausaha pun dihadapkan pada banyak jebakan dan godaan. Salah satu sindrom yang sering muncul adalah euforia sukses. Karena telah membuktikan diri sukses, dorongan untuk mengejar sukses-sukses yang lain pun sering sedemikian menggebu sehingga mengabaikan kemampuan riilnya.
Banyak contoh pengusaha yang awalnya maju pesat berkat bisnisnya yang berkembang sangat bagus, tiba-tiba limbung lalu terjungkal gara-gara terlalu ekspansif ke bidang-bidang baru yang belum begitu dikuasainya. Jadi, hati-hatilah. Laju boleh cepat tapi ritme hendaknya tetap terjaga. Yang jelas, gairah menuju entrepreneurial society ini perlu disambut hangat. Sebab, sumbangan pengusaha kecil dan menengah terhadap perekonomian nasional — seperti sudah sangat kerap didengung-dengungkan — tak perlu disangsikan lagi. Terutama, dalam hal penyediaan lapangan kerja dan andilnya dalam membangun struktur perekonomian nasional yang sehat. Karena itu, sudah saatnya pemerintah (khususnya pemda) makin terpacu untuk menciptakan iklim yang kondusif bagi munculnya para wirausaha baru.
Bentuknya bisa macam-macam, antara lain ketersediaan kredit yang memadai bagi small and medium enterprises, penyaluran dana BUMN ke sasaran yang tepat, tidak membebani pajak secara tidak proposional, dan lain sebagainya.
sumber:

Kamis, 17 Februari 2011

Sukses Hak Semua Orang

pelajaran hari ini :
"Kesuksesan milik siapa saja yang benar-benar ingin sukses."
hari ini Minggu, 4 Juli 2010.
seorang pria dewasa yang berusia lbih dari 25 thn, ia memiliki kekurangan secara fisik, ia cacat, ia berjalan dengan tertatih-tatih. berat badannya ditopang oleh sebuah kaki kiri palsu. sungguh prihatin sekali pria ini.
ia berkata pada ku, "jangan jadikan kelemahan menjadi alasan kamu untuk bermalas-malasan. learning by doing"
manfaatkan lah waktu sebaik-baiknya, mungkin maksud dari kata2 ia seperti itu.
tugas kita hanyalah mencoba & berusaha, Allah yang akan menuntun kita untuk menggapai impian kita.
hati rif terharu melihat kegigihan pria itu, pria dgn keterbatasan fisik, tetapi ia memiliki semangat yg luar biasa untuk menggapai impiannya. tidak ada keraguan dari raut wajahnya, hanya keyakinan akan tercapainya impian yg trlihat pd wajahnya.Ia yakin dgn selalu berusaha belajar & melakukan dgn sebaik mungkin, maka keberhasilan yg akan ia dapat...
it's story about my friend in USB, sekolah bisnis gratis Pak Victor Asih.
Hayo temen-temen yg punya fisik mndekati sempurna, jgn kau bermalas-malasan, jgn jdikan kemalasanmu itu bom yg akn menghancurkan kehidupanmu.
keep spirit for get u're dreams..
go entrepreneur..
go success..
Insyaallah Allah akan menuntunmu..

Kamis, 03 Februari 2011

Sholat


"Aku tak pernah melihat Muslim bin Yassar melirikan matanya saat shalat, sekalipun".

Suatu saat dinding masjid roboh hingga mengejutkan orang yang berada di pasar, karena getarannya. Tapi Muslim bin Yassar tetap dalam shalatnya tanpa melirik sekalipun".

Ini perkataan Maymun bin Hayyan, seorang shalih di zaman Tabi'in, tentang sahabatnya Muslim bin Yassar yang terkenal khusyu dalam beribadah.

Para orang-orang shalih dahulu, mereka memiliki kenangan yang cukup detail prihal kebaikan sahabat-sahabat mereka. Orang-orang shalih dahulu sangat memperhatikan shalat sahabatnya dan mengambil banyak pelajaran dari kebaikan sahabatnya. Seorang shalih pernah bertanya pada Khalaf bin Ayub,

"Apakah engkau tidak risih dengan lalat yang hinggap saat shalat sehingga engkau perlu mengusirnya?"

Ia menjawab, "Aku tidak membiasakan diri untuk melakukan sesuatu yang merusak nilai shalatku".

Si penanya belum puas dengan jawaban itu, dan bertanya lagi soal bagaimana Khalaf bin Ayyub bisa menahan diri untuk tetap tidak bergeming saat lalat hinggap di tubuhnya ?

Khalaf bin Ayyub menjawab, "Seorang penjahat bisa bersabar saat dihukum berat di dalam penjara dan dia bahkan bangga dengan kesabarannya itu. Sedangkan aku berdiri di hadapan Allah SWT, apakah aku harus bergerak hanya karena seekor lalat?"

Sepotong kisah tentang khusyu’ orang-orang shalih saat menunaikan shalat. Di antara mereka ada yang bernama Ibnu Zubair, yang bila berdiri dalam shalatnya, seperti batang pohon.

Cerita lainnya yang diberitakan oleh Adz Dzahabi tentang Sofyan At Tsauri, yang pernah dilihatnya menunaikan shalat di Masjidil Haram setelah shalat Magrib. Ats Tsauri melakukan shalat nafilah lalu sujud dan ia tidak mengangkat kepalanya kecuali hingga berkumandang azan Isya.

Orang shalih yang lain, Ali bin Fudhail, bercerita. "Aku ingin tawaf di Ka'bah. Aku lihat Sofyan Ats Tsauri sedang sujud dalam shalatnya. Aku menyelesaikan thawafku, tapi aku masih melihat Ats Tsauri sujud. Lalu aku tawaf lagi, dan ketika selesai thawaf aku melihat dia masih dalam keadaan sujud".

Itulah kenyatan yang dilakukan kebanyakan para Shahabat, para tabi'in radhiallahu anhum. Shalat di mata mereka sungguh-sungguh menjadi penyejuk yang begitu menenangkan jiwa. Di sanalah mereka mendapatkan pucuk cintanya. Di sanalah mereka berteduh di sebuah taman yang begitu nyaman dan membuatnya lupa dengan apapun di sekelilingnya.

Kitapun menjadi lebih mengerti tentang sabda Rasulullah saw kepada Bilal Ra,

"Ya Bilal, istirahatkanlah kami dengan shalat".

Itulah yang dikatakan Rasulullah saw,

"Dan sungguh dijadikan kesejukan mataku saat melakukan shalat".

Semoga Allah SWT mengasihi hamba-hambaNya yang tunduk dan khusyu’ kepadaNya.

@@@@@@@

Shalat adalah wasiat terakhir Rasulullah Saw menjelang wafatnya. Shalat jugalah yang menjadi akhir hilangnya Islam dari sebuah masyarakat. Shalat juga, masalah pertama yang akan ditanyakan kepada seorang hamba di hari kiamat di hadapan Allah SWT Yang Mahatahu.  

Perhatikan lagi dengan lebih seksama, bagaimana Rasulullah Saw suatu ketika tengah berada di masjid bersama para sahabatnya. Lalu, masuklah seseorang dan dia melakukan shalat. Usai shalat, orang itu datang dan mengucapkan salam kepada Rasulullah saw.

"Kembalilah dan shalatlah, engkau belum shalat".

Setelah itu orang tersebut shalat lagi sebagaimana shalatnya yang pertama. Tapi ketika mendatangi Rasulullah Saw, ia kembali diperintahkan kembali mengulangi shalatnya.

"Engkau sebenarnya belum shalat," ujar Rasululalh Saw.

Ia kembali melakukan shalat yang ketiga kalinnya kemudian datang kepada Rasulullah Saw. Ternyata Rasul saw tetap menganjurkan ia untuk kembali mengulang shalatnya dan mengatakan bahwa ia sebenarnya belum shalat.

Orang itu bertanya, "Demi Allah Yang Mengutusmu dengan kebenaran. Apakah ada yang lebih baik dari yang kulakukan?  Ajarkan aku”, katanya.

Rasulullah Saw menjawab, " Jika engkau berdiri shalat, bertakbirlah. Kemudian bacalah ayat apa yang mudah bagimu dari Al Quran. Lalu ruku'lah hingga engkau tuma'nihah dalam ruku. Lalu angkatlah kepalamu sampai engkau berdiri lurus. Lalu sujudlah hingga engkau thuma`ninah dalam sujud. Lalu bangunlah hingga engkau thuma`ninah dalam duduk. Lakukanlah itu dalam shalatmu semuanya… "

Barangkali perlu ada teguran setelah mengerjakan shalat, yang melakukan hal sama seperti yang dilakukan Nabi Saw, "kembalilah dan shalatlah lagi, karena sesungguhnya engkau belum shalat".

Mungkin tidak sedikit dari kita yang melakukan ruku', sujud, duduk di antara dua sujud dalam keadaan yang terburu-terburu. Tanpa kekusyu'an kepada Allah yang Maharahim dan Mahakasih Sayang.

Mungkin ada di antara kita yang masih mencuri pandangan ke sisi lain saat kita shalat, melihat pakaian, melihat jam, melihat arah lainnya, atau sangat ingin cepat selesai shalat.

Ternyata, kita telah kehilangan khusyu' dalam ibadah. Kita menunaikan shalat hanya untuk menggugurkan kewajiban, bukan untuk dinikmati dan dirasakan kenikmatannya.

Benarlah apa yang dikatakan Khudzaifah bin Al Yaman radhiallahu anhu,

"Pertama kali yang hilang dari agama kalian adalah kekhusyuan, dan yang paling terakhir hilang adalah shalat.

Ada banyak orang yang melakukan shalat tapi tak ada kebaikan di dalam dirinya. Kelak engkau masuk ke sebuah masjid dan tidak engkau lihat di dalamnya orang yang melakukan shalat dengan khusyu".

Khudzaifah bin Al Yaman sangat takut terhadap hilangnya kekhusyu'an, sebagaimana ia takut bila kekhusyu'an itu hanya tampilan luarnya saja.

"Hati-hatilah kalian dari kekhusyuan yang nifaq: Tubuh seseorang secara lahir terlihat khusyu' tapi hatinya tidak khusyu".

Demikian ujar Khudzaifah Al Yaman, seorang Shahabat Rasulullah, yang dijuluki Shaahibus sirri Rasulillah, atau orang yang menyimpan rahasia Rasulullah Saw tentang orang-orang munafik.